Kamis, 01 November 2012

Ibumu Tidak Tergantikan


Tadi malam saya membuat kultwet pendek di twitter tentang ibu. Setelah itu ada SMS masuk di handphone saya, isinya “Mas Jamil mungkin bisa berterima kasih dan menangis saat bicara ibu. Kalau saya sama sekali tidak, ibu tidak berjasa apapun dalam hidup saya. Dia hanya melahirkan, setelah itu saya dicampakkan.”
Mendapat SMS itu, kultwet saya hentikan karena tiba-tiba saya kehilangan ide. Saya tertegun kemudian merenung. Menurut saya, jasa terbesar seorang ibu adalah saat terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma sang suami dan kemudian ia hamil selama kurang lebih 9 bulan. Jasa orang tua, khususnya ibu dalam hal ini, tidak bisa tergantikan dengan apapun dan oleh siapapun.

Mengapa tidak tergantikan? Karena dari proses itulah kita berkesempatan terlahir ke dunia, menikmati keindahan dunia dan kelak mendapat peluang untuk bisa hidup abadi di surga. Bandingkan nasib kita dengan trilyunan sperma lain di dunia yang tidak menjadi apa apa, bahkan kemudian dibuang ke tempat yang kotor, tidak tahu keindahan dunia dan yang pasti tidak berkesempatan untuk bisa menikmati kehidupan di surga.

Jadi, jasa ibu kita yang terbesar adalah saat kita dalam kandungan bukan saat kita berada di dunia. Seandainya, setelah melahirkan kemudian ibu pergi dan menyerahkan pendidikan kita kepada nenek, panti asuhan atau diberikan kepada saudara, jasa ibu tetap tidak akan tergantikan. Peranan ibu yang hanya kurang lebih sembilan bulan itu tidak mungkin Anda balas dengan apapun. Jadi, tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak hormat atau mencintai seorang ibu.

Apalagi bila Anda memiliki seorang ibu yang merawat kemudian membesarkan dengan penuh cinta, sangat tidak layak jika Anda tidak berusaha keras untuk membahagiakannya. Ketahuilah, walau Anda menghajikan ibu ke Tanah Suci, kemudian Anda menggendongnya sejak keberangkatan hingga kepulangan, itu amatlah kecil dibandingkan dengan jasa dan kasih sayangnya.

Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu, kemudian kita persembahkan kepada ibu, itu tidak akan cukup menggantikan kasih sayangnya. Saat ibu sudah renta dan kita mengerahkan semua energi dan cinta untuk merawatnya, itu juga tidak cukup membalas cinta dan perhatiannya. Walau setiap hari kita berdoa untuknya, itu juga tidak cukup menggantikan doa-doanya untuk kita  yang terucap dari mulutnya.
Maka, sungguh durhaka bila kata yang terucap dari mulut kita itu melukai hatinya. Sungguh tidak tahu diri, bila kita keberatan merawatnya saat ia sudah tua. Sungguh kita tak tahu balas budi bila hanya sekedar berdoa untuk ibu pun kita sudah tidak punya waktu. Sungguh terlalu bila ia sakit dan merindukan kehadiran kita, namun kita masih menyiapkan seribu alasan untuk tidak menemaninya.

Bila yang seperti itu yang terjadi, masih pantaskah kita kelak berharap hidup di surga? Bukankah surga berada di telapak kaki ibu? Oh ibu, aku benar-benar mengharap ridhomu…

Salam SuksesMulia!

Malulah


Rasa malu yang tepat itu bisa menyelamatkan hidup Anda. Namun sayang, rasa malu kini sering berada di tempat yang salah. Apa contohnya? Tidak punya pacar, malu. Tidak punya mobil berkelas, malu. Membawa-bawa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bisnis, malu. Itu semua adalah malu yang keliru.

Milikilah rasa malu di tempat yang tepat agar kehidupan kita selamat. Milikilah rasa malu, bila semakin bertambah usia tetapi kita belum bisa membahagiakan orang tua. Memang, orang tua yang baik tidak akan pernah berharap balasan apapun dari anaknya kecuali doa dari anak sholeh. Namun sebagai anak seharusnya kita tahu diri untuk membahagiakan mereka. Malulah kalau kita belum mampu membantu mewujudkan hal-hal yang menjadi kebanggaan orang tua. Apalagi kalau kita justru menjadi beban bagi mereka, malulah.
Milikilah rasa malu, bila kita bekerja di suatu perusahaan namun belum mampu memberikan kontribusi besar untuk kemajuan perusahaan. Anda hanya menjadi manusia rata-rata. Kontribusi Anda hanya sesuai bayaran yang Anda terima, malulah. Apalagi bila Anda ternyata menjadi orang yang “meludah di sumur” yang airnya Anda minum. Apa artinya? Anda masih dibayar oleh perusahaan tetapi Anda sempatkan diri untuk menjelek-jelekkan perusahaan, maka malulah.

Milikilah rasa malu, bila kita berkeluarga namun tidak memiliki waktu berharga buat mereka. Senin hingga Jumat Anda gunakan untuk bekerja, pergi pagi pulang malam. Saat libur Sabtu dan Minggu Anda masih juga asyik dengan urusan sendiri; boleh jadi Anda ‘balas dendam’ tidur seharian, menonton TV, pergi bersama orang lain atau beraktivitas lain yang tidak melibatkan keluarga. Padahal, keluarga memerlukan pelukan, telinga dan juga nasihat Anda. Maka, bila Anda tidak menyiapkan waktu berharga buat mereka, malulah.

Kepada para pemuda, malulah, bila Anda masih meminta uang dari orang tua tetapi Anda menunda-nunda skripsi. Padahal orang tua bekerja keras membanting tulang untuk mengongkosi kuliah Anda. Yang lebih tak tahu malu lagi, uang kiriman dari orang tua tega-teganya digunakan untuk membeli rokok dan pacaran yang justru menambah dosa. Wahai pemuda, kalau Anda masih seperti itu, malulah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menikmati udara, sinar matahari, bumi yang kita pijak dan panca indra cuma-cuma dari Yang Maha Kuasa. Maka malulah bila saat kita dipanggil untuk menghadap kepada-Nya, kita mengabaikannya. Apalagi bila kita dengan suka cita berani melanggar larangan-larangannya, maka malulah.
Tempatkanlah rasa malu di tempat yang pas, atau berbuatlah sesuka Anda, bila Anda tak tahu malu. Namun sesungguhnya pilihan yang tepat adalah, malulah…

Salam SuksesMulia!

Kreatiflah atau Tertinggal


Saat saya SD dulu, bila guru berkata, “Anak-anak silakan gambar pemandangan yang paling indah.”  Saya dan sebagian Anda bisa menebak apa yang akan digambar oleh para siswa. Pasti ada gunung, sawah, matahari terbit, jalan dan awan. Pendidikan kita tidak menghasilkan anak-anak yang kreatif saat itu.

Namun sekarang dunia pendidikan sudah berubah. Selain banyak pelatihan gratis buat guru, muncul juga komunitas-komunitas yang peduli pendidikan. Berbagai model sekolah pun bermunculan. Dua anak saya yang kini bermukim di Jerman yaitu Nadhira (20 tahun) dan Asa (18 tahun) adalah lulusan sekolah alam, yang belum ada saat saya kecil dulu. Sekolah tersebut melatih dan mengembangkan kreativitas tak berbatas pada anak-anak. Tidak heran kalau dua anak saya tadi lebih kreatif dibandingkan saya saat kecil dulu.
Kreativitas juga tumbuh subur di dunia bisnis. Dulu orang jualan pecel lele pakai tenda di pinggir jalan. Tapi sahabat saya Rangga Umara mengubahnya menjadi lebih bergengsi, Pecel Lele Lela. Bahkan pecel lele bisa masuk istana negara dengan sentuhan penulis buku Dream Book ini. Dulu tidak ada profesi Optimizer, sahabat saya Ali Akbar mempopulerkan istilah itu dan telah melahirkan banyak orang sukses dengan profesi baru itu.

Teruslah berkreasi karena tuntutan jaman semakin berubah dan tinggi. Ingat pesan Albert Einstein, “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama.”  Cobalah cara baru, cobalah strategi baru dan jangan lupa juga cobalah hal-hal baru. Dengan cara ini hidup kita semakin bermutu.
Nah, kreativitas juga muncul dalam wawancara perusahaan saat merekrut tenaga kerja baru. Alkisah, seorang pimpinan HRD di sebuah perusahaan mewawancarai tiga kandidat karyawan baru. Mereka akan ditempatkan di bagian yang memerlukan kreativitas dan kecerdasan tinggi.

Pertanyaan pertama dimulai, “Apa yang bergerak cepat dan sebutkan alasannya?” Kandidat pertama menjawab, “Pikiran pak, karena tanpa kita duga tiba-tiba pikiran sudah muncul.”
Pimpinan HRD itu berkata, “Bagus dan cerdas Anda. Selanjutnya kandidat kedua, apa jawabanmu?” Kandidat kedua pun menjawab, “Saklar lampu, pak. Kita pencet saklar lampu di dalam rumah tetapi lampu di luar rumah menyala.”
Pimpinan SDM itu berkata, “Luar biasa Anda. Sekarang kandidat yang ketiga, apa jawabanmu?” Maka dengan tegas kandidat ketiga itu menjawab, “Menurut saya yang paling cepat itu mencret-mencret, pak”
Mendengar jawaban itu terkejutlah pimpinan SDM itu maka langsung ia bertanya, “Mengapa begitu, sebutkan alasannya?” Kandidat ketiga menjawab, “Karena belum sempat kita berpikir dan menekan saklar lampu, mencret sudah keluar, pak.”

Salam SuksesMulia!

Passive Pahala


Semua orang pasti ingin memiliki passive income; penghasilan terus mengalir pada saat sudah tidak bekerja. Bagi orang yang bekerja dan menjadi karyawan, setelah tua mereka mengandalkan dana pensiun walau mungkin tidak seberapa. Bagi yang punya jiwa bisnis, mereka membangun kerajaan bisnis agar usahanya semakin besar dan bisa terus dinikmati hasilnya hingga di kemudian hari. Passive income adalah impian banyak orang, termasuk saya di dalamnya.

Secara spiritual, Allah SWT juga menawarkan Passive Pahala. Apa itu? Pahala yang terus mengalir tiada henti walau kita sudah tidak lagi melakukan amalannya bahkan kita sudah terbujur kaku di dalam tanah. Orang-orang yang cerdas pasti akan berebut mengambil kesempatan ini.  Mau tahu apa tawaran Sang Pencipta? Simak hadits berikut, “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
Pastikanlah dalam setiap menerima penghasilan ada bagian yang Anda sedekahkan. Sedekah itu direncanakan bukan hanya dari sisa-sisa penghasilan. Sedekah rutin itu lebih prioritas dibandingkan menabung rutin. Kehidupan akhirat jauh lebih nikmat dibandingkan kehidupan dunia yang sesaat. Sedekah itu menyelamatkan hidup Anda bukan bagi si penerima. Sangat rugi orang yang sanggup membeli rutin sesuatu yang bisa merusak hidupnya (rokok, misalnya) tetapi tidak bisa rutin bersedekah.

Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.  Apalagi bila ilmu itu disebarluaskan dan diajarkan. Tabiat ilmu, semakin sering dibagikan maka akan semakin banyak dan mengkristal dalam hidup Anda. Khusus bagi Anda yang ingin menyebarkan ilmu lewat dunia training, silakan ikut Trainer Bootcamp, 7-9 Desember di Bogor, hubungi 0812-1632-0707 [Promosi dikit, ya. Hehehe... Tapi swear itu bermanfaat banget].
Menyebarkan ilmu tidak harus di ruang kelas atau kuliah tapi bisa juga lewat media sosial. Aktifkan twitter, facebook dan blog atau website Anda untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Social media bukan sarana untuk curhat apalagi menyebarkan kegalauan pribadi Anda. Jadikan ia sarana untuk meningkatkan Passive Pahala Anda.
Mendidik anak yang shalih bukan pekerjaan mudah. Itu harus ditempuh dengan keringat dan usaha yang cerdas. Bahkan harus dilakukan sebelum anak kita terlahir. Bagaimana caranya? Dengan memilihkan ibu atau bapak terbaik bagi anak-anak kita. Pilihlah pasangan yang bisa menjaga harga dirinya bukan yang dengan mudah menyerahkan kehormatannya.

Setelah menikah, kehidupan rumah tangganya harus dibangun dengan visi yang jelas. Didiklah anak laki-laki Anda untuk menjadi pemimpin dan suami teladan di masa yang akan datang. Sementara didiklah anak perempuan Anda untuk menjadi istri shalihah dan ibu yang hebat bagi putra-putrinya. Salah mendidik anak akan menjadikan karakter anak tidak jelas, lelaki tetapi perilakunya perempuan atau sebaliknya perempuan tetapi gayanya laki-laki. Jangan hanya pintar melahirkan tetapi tidak dididik dengan cara yang benar.

Jangan pernah main-main dan berleha-leha untuk tiga hal tersebut di atas. Sesuatu yang memberikan hasil besar pasti memerlukan energi yang besar. Tanpa Passive Pahala ini rasanya tak cukup amal-amal kita untuk ditukar dengan tempat yang sangat mulia di kehidupan nanti. Orang-orang yang waras dan cerdas pasti akan rela berkeringat untuk sesuatu yang sangat manfaat.  Setuju?

Salam SuksesMulia!

Hidup Ini Perjalanan Spiritual


Kita bukanlah robot, yang bergerak dan beraktivitas tetapi tidak ada pikiran dan hati yang menyertainya. Kita bukanlah robot, dimana aktivitasnya hanya menjalankan “instruksi” orang lain.  Kita adalah makhluk spiritual, yang menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan sebentar. Kata orang tua saya hidup ini hanya sekedar “mampir ngombe” (mampir minum).

Namun kehidupan yang sebentar ini menentukan hidup yang abadi, kehidupan yang bukan hanya seratus tahun, sejuta, semilyar atau setrilyun tahun tapi hidup selama-lamanya. Ketahuilah, hidup yang paling rugi adalah di dunia hampa dan menderita kemudian di akhirat mendapat full siksa, dimana siksanya tiada pernah berhenti dan tiada belas kasih. Maka janganlah hidup asal mengalir apalagi hanya menjadi seperti robot.
Bagaimana agar hidup kita tidak seperti robot? Pertama, yakini dan pastikanlah bahwa semua yang Anda lakukan itu mendatangka ridho dari Allah SWT. Janganlah beraktifitas dan bekerja hanya mempertimbangkan hasil di dunia. Sebab amatlah rugi bila apa yang kita lakukan tidak mendapatkan reward dari-Nya. Buat apa hidup di dunia berlimpah tetapi di kehidupan nanti kita susah sepanjang masa. Akhirat harus Anda dapatkan tetapi dunia jangan kau lupakan.

Kedua, rencanakanlah hidup Anda. Saran saya buatlah proposal hidup (baca buku saya: Tuhan Inilah Proposal Hidupku, terbitan Gramedia). Dengan membuat proposal hidup Anda bisa menentukan mana aktivitas yang prioritas dan mana yang aktivitas yang “remeh temeh”. Hidup hanya sebentar, tidak semua hal bisa kita lakukan. Pilihlah aktivitas yang prioritas dan penting, beranilah berkata “tidak” untuk ajakan aktivitas yang tidak seirama dengan arah hidup Anda.

Ketiga, evaluasilah perjalanan hidup Anda. Berhentilah sejenak dari hiruk pikuknya dunia, renungkanlah perjalanan hidup Anda. Apakah bekal Anda untuk kehidupan nanti sudah cukup hanya dengan apa-apa yang Anda lakukan saat ini. Apakah orang tua Anda tidak menyesal melahirkan Anda ke muka bumi? Apakah mereka sudah bangga dengan Anda saat ini? Apakah orang-orang di sekitar Anda memperoleh banyak manfaat dari Anda? Apakah pasangan hidup dan keturunan Anda mendapat curahan kasih sayang penuh dari Anda? Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan lain yang sesuai dengan perjalanan hidup Anda.
Hidup di dunia adalah perjalanan spiritual. Tidak pantas kita  menjalani hidup hanya mengalir dan seperti robot. Tidak pantas pula menjalani hidup hanya untuk kepuasan dan kebanggaan dunia. Perjalanan spiritual itu dibuktikan dengan memberi makna ketika hidup di dunia dan membawa bekal yang cukup untuk sampai ke tempat yang mulia, Surga yang dijanjikan Sang Pencipta.

Salam SuksesMulia!

Aku Rindu Menjadi Sepertimu


Ada seorang laki-laki yang ingin sekali punya anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, berharap dan berusaha akhirnya keinginannya dikabulkan oleh Allah SWT. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan lelaki itu. Saat rasa cinta kepada sang anak begitu bergelora Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih sang buah hati yang sangat ia cintai. Saya tidak bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk dalam hati laki-laki bernama Ibrahim AS itu.

Begitu cintanya lelaki ini kepada Allah SWT, ia relakan sesuatu yang sangat dicintainya untuk dikorbankan. Oh, aku tertegun. Hal terbaik apa yang sudah saya korbankan? Mengapa terkadang aku masih menomorduakan perintah-perintah Allah SWT? Terlalu sibuk dengan kesenangan dunia yang hanya sementara. Terlalu terburu-buru dan tak sabar dengan janji dari Yang Maha Tahu. Pantaskah saya mengaku bahwa saya sangat mencintai Allah SWT?

Padahal saat taat kepada Allah SWT, maka kita akan mendapat berbagai jalan dari arah yang tidak terduga. Sebagaimana Ibrahim AS, ia rela korbankan yang terbaik tetapi dia tak kehilangan yang terbaik bahkan mendapat ganti sesuatu yang diluar nalar manusia, seekor domba terbaik.  Janji Allah SWT pasti bahwa siapa yang taat kepada-Nya akan mendapat berbagai kemudahan dari berbagai penjuru. Tetapi mengapa terkadang kita masih ragu?
Dalam bisnis kita diingatkan untuk bertransaksi secara halal, tetapi mengapa kita masih juga berani menggunakan cara-cara yang haram? Hasilnya? Keuntungan bisnis habis untuk sesuatu yang tidak jelas. Bagi yang bekerja, gajinya terserap habis untuk angsuran yang semakin membesar. Hidup kita akhirnya diperbudak dunia. Kita dibuat sibuk tetapi tidak ada hasil signifikan yang bisa kita nikmati.

Hal-hal yang kita berikan kepada Allah SWT bukanlah yang terbaik. Waktu yang diberikan kepada-Nya adalah waktu-waktu sisa setelah kita lelah untuk urusan dunia. Di saat sepertiga malam Allah SWT merindukan kehadiran kita, tetapi justru kita tertidur pulas atau di depan TV menonton sepak bola. Sedekah atau sumbangan yang kita persembahkan hanyalah recehan, sisa-sisa dari belanja kita bukan sedekah yang disiapkan sejak semula.
Ketika Allah SWT meminta kepada kita melalui nabi-Nya, ‘sampaikanlah walau hanya satu ayat’, kita hanya berdiam diri tanpa aksi bahkan terkadang sibuk menghujat orang-orang yang sibuk berbuat kebaikan. Ketika kita diminta berpegang teguh kepada kitab suci yang Dia turunkan, ternyata kitab suci itu justru kita kunci di dalam almari.

Kita, atau setidaknya saya, belum memberikan yang terbaik untuk Allah SWT. Pantaslah bila berbagai jalan kemudahan dan solusi kehidupan tidak begitu mudah hadir dalam kehidupan kita. Mengapa kita belum memperoleh yang terbaik? Karena kita juga belum memberikan yang terbaik kepada Sang Maha Kuasa.

Terima kasih wahai Ibrahim AS. Aku rindu menjadi sepertimu, menjadi kekasih Allah SWT.

Salam SuksesMulia!

Selasa, 16 Oktober 2012

Observasi VS Kajian Pra Nikah

Oktober 16,  2012 / 1 dzulhijah 1433
Hari ini saya dapat tugas dari diklat MIBS (Mqfm Islamic Broadcasting School) untuk observasi alias melihat bagaimana cara kerja real saat siaran di radio, dimana saya saat ini sedang mengikuti training penyiaran di radio tersebut.
Saya diberi jadwal jam 10 pagi saat acara rumahku syurgaku kebenaran acara tersebut memang favorit saya.
Dimana acara ini selalu mengupas tentang masalah lika liku kehidupan dalam keluarga.
Lumayan sebagai bekal buat yang belum berpengalaman.

Pagi ini saya datang setengah jam sebelum acara dimulai.
Menunggu diruang tamu sambil bengong karena nggak tau apa yang akan di lakukan saat observasi nanti, apa cuma memperhatikan atau harus melakukan sesuatu.

Waktu observasi pun tiba, saat pergantian acara saya masuk ruang siaran dan diberi arahan tuk memperhatikan seorang akhwat (lupa namanya) yang mimpin siaran acara rumahku syurgaku tersebut.
Dan yang menjadi seorang narasumber Ustad Taufik Ismail.
Jadi tau juga seorang ustad yang kalem ini yang slama ini cuma tau namanya doank lewat radio.

Sebelum acara dimulai perkenalan pun dimulai dengan ustad tersebut.
Dan sang penyiar pun menanyakan materi yang akan dibawakan.
Ustad menjawab "kajian pranikah"
Lebih detail nya apa ustad, tanya penyiar.
"Terapi senyum untuk seseorang yang sedang dalam masa penantian", jawab ustad.

Jleeeebbbb...."""
Langsung ngena bgt ama apa yang sedang saya rasakan skr ini.
Penantian ama seseorang yang entah kapan akan bersua dan mewujudkan mimpi"nya.
Tapi apa hubnya am terapi senyum? Yg ada malah H2C alias Harap Harap Cemas"
pertanyaan yg muncul dlm hati...

Acara pun berlangsung...
Sang penyiar menjalankan tugasnya n' abi hanya sepintas memperhatikan ap yg dilakukannya.
Sang ustad pun memaparkan kajianya.

Alih" dsuruh memberikan perhatikan ttg cara kerja si penyiar, eh malah lbh tertarik am pemaparan ustad tsb.
Krn penasaran dg hub terapi senyum am penantian kekasih.

Ternyata SENYUM dlm penantian ini diartikan oleh ustad tsb ssuai huruf yg ada di kata itu sendiri.
SENYUM => Sabar Empati Nikmati Yakin Usaha (ikhtiar) Miliki keikhlasan.
Bnyk sx pendengar yg interaktif dlm acara tsb.
Dan itu pun bwt abi pngn rasanya menanyakan ttg apa yg abi sndiri rasakan n' alami ttg penantian ini tp malu rasanya.
Aplg dtambah tugas abi hanya observasi n' konsen dg cara kerja siaran.
Tp ngeganjel jg saat tdk menanyakan solusi yg hrs abi lakukan saat ini.

2 jam kebersamaan pun berakhr dlm acara tsb.
Sang ustad pamit, lidah ini msh ƍäªK tahan ingin meminta solusi n' petuahnya tp syg kesempatan itu tak ada.
Kburu ustad tsb prgi mninggalkan ruangan n' abi brtahan diruangan siaran mnunggu konfirmasi dr koordinator observasi.

Kadang ap yg ingin kita lakukan tuk mendapat suatu pencerahan dirasa bgtu sulit krn faktor yg ada dlm diri sendiri.
Kurangnya keberanian n' memanfaatkan wkt yg ada malah menjadi kendala trsendiri bwt diri.