Kamis, 01 November 2012

Calon Istri Mirip Ibu


Jangan pernah menunda-nunda untuk menikah. Menikah itu anugerah. Buatlah kriteria yang sederhana untuk calon pasangan Anda. Syarat dan kriteria yang terlalu rumit hanya akan membuat Anda sulit menentukan hari dan tanggal pernikahan.
Begitu pula bagi Anda yang sudah punya anak. Berilah mereka kebebasan untuk memilih calon pasangan hidupnya. Terlalu ketat menentapkan standar bisa berabe urusannya, sebagaimana terjadi pada kisah berikut.

Ada seorang pemuda yang sudah sangat “kebelet” menikah. Namun, sang ibu selalu menolak setiap calon yang diajukan dengan berbagai alasan: terlalu gemuk, terlalu pendek, terlalu pendiam, rambutnya direbonding, berasal dari perguruan tinggi tak ternama dan sebagainya.

Merasa kebingungan, pemuda ini meminta nasihat seorang konsultan pernikahan. Darinya ia mendapat jawaban singkat saja, “Carilah perempuan yang mirip ibumu!”
Berbekal nasihat tersebut pemuda yang memang sudah merindukan pasangan inipun mencarinya dengan berbagai cara. Setelah 3 bulan ia berjibaku mencari jodoh akhirnya ia menemukan seorang wanita yang mirip ibunya.

Ya, dari berbagai hal, si calon ini memiliki banyak sekali kemiripan dengan ibunya. Mulai dari tinggi badan, berat badan, potongan rambut, bahkan ukuran sepatu dan busananya. Demikian pula perilakunya, cara bicaranya, intonasi dan kecepatan bicaranya, caranya tersenyum, memandang orang lain, semuanya persis ibunya.
“Yes! Inilah calon istriku dan pasti ibuku setuju,” seru pemuda itu yakin.

Ketika saatnya tiba, dengan mantap pemuda ini memperkenalkan calon istrinya kepada kedua orangtuanya. Ia ingin minta restu dan persetujuan dari ayah dan ibunya.
Ibunya tampak senang. Namun, sang ayah kelihatannya punya pendapat berbeda.
“Nak, ayah sudah berpengalaman hidup dengan perempuan seperti itu. Kau akan menderita dan menyesal, nak,” ucapnya setengah berbisik, sambil mengusap air mata yang menggenang di pipinya.

Salam SuksesMulia!

Budaya Pamer


Alkisah, ada seorang kaya baru yang sangat ingin eksistensinya diakui. Maka, semua perilaku orang kaya ia ikuti. Ia main golf, membeli mobil mewah dan juga berbusana branded. Tak lupa ia membeli motor gede (moge) yang keren: Harley Davidson.

Ia pun mencoba motor barunya itu di jalan raya. Di perjalanan ia melihat mobil tetangganya meluncur di jalan yang sama. Ia mengejar mobil itu, setelah dekat ia berteriak, “Hey! Punya Harley, gak?” Dari dalam mobil tetangganya itu balas berteriak, “Pamer kamu! Sombong kamu! Mentang-mentang punya Harley!”

Dengan kesal sang tetangga itu mempercepat laju mobilnya. Seakan tak mau kalah, si orang kaya baru itu mengejar lagi dan kembali teriak, “Hey! Punya harley tidak?” Sang tetangga pun membalas dengan teriakan, “Dasar tetangga tukang pamer, sombong!” Ia lalu memacu mobilnya lebih cepat.

Si orang kaya baru itu berusaha mengejarnya. Namun sayang ia terjatuh karena menghindari truk yang datang dari arah berlawanan.
Melihat kejadian itu, tetangganya kemudian berhenti dan menolong si orang kaya baru sambil berkata, “Makanya jangan sombong. Mentang-mentang punya Harley. Begini balasan buat orang yang suka pamer.”

Dengan menahan rasa sakit orang kaya baru itu menjawab, “Siapa yang pamer? Saya tadi berteriak tanya kamu punya Harley atau tidak bukan mau pamer. Saya cuma mau tanya, dimana letak remnya?!”

Salam SuksesMulia!

Suami Istri Sama-sama Selingkuh


Sepasang suami istri telah menikah begitu lama. Untuk menghormati privacy, setelah 15 tahun menikah masing-masing mengajukan permintaan.  Suami tak ingin handphone atau BB-nya dibuka oleh istri. Sementara sang istri hanya meminta agar suaminya tidak membuka laci meja di kamar tidur.

Dengan kesepakatan itu sang suami merasa aman perselingkuhannya dengan beberapa wanita tak akan diketahui oleh istrinya. Kata-kata mesra dan percakapan via SMS dan BB tak akan terendus oleh istrinya. Diapun leluasa menggunakan handphone dan BB sebagai alat komunikasi untuk selingkuh.

Setelah 10 tahun kesepakatan itu dipegang kuat akhirnya luntur juga.  Sang suami tegoda untuk membuka laci meja di kamar tidur. Begitu ia membua laci itu ternyata hanya berisi 2 butir kacang ijo dan uang Rp5.000.

“Ya ampun cuma ini tho yang tak boleh aku ketahui,” bisik suami.  Sembari meminta maaf karena telah melangar kesepakatan, lelaki yang usianya sudah menjelang 50 tahun itupun penasaran bertanya, “Apa artinya dua butir kacang ijo dan uang lima ribu rupiah ini?” Sang istri kemudian menjawab, “Setelah aku cerita apakah bapak berjanji tetap sayang sama saya?” “So pastilah sayangku,” seru suaminya.

Sambil menarik napas panjang istri itu bekata: “Maaf suamiku, sebenarnya aku wanita yang rusak, aku pernah selingkuh. Untuk mengingatkanku, setiap aku selingkuh aku meletakkan satu butir kacang ijo di laci meja itu.” Sang suami terdiam, dia berbisik di dalam hati, “Gak apa-apalah, kan cuma dua kali selingkuh sementara aku sudah melakukan belasan kali.”

Suami itu kemudian memeluk istrinya sambil berkata, “Istriku, jangan khawatir, aku tetap mencintaimu walau kau pernah selingkuh.Cintaku tak berkurang sedikitpun. Lantas apa arti uang lima ribu rupiah itu?” Dengan terisak istri itu menjawab, “Karena laci mejanya terlalu kecil, maka aku jual satu kilogram kacang ijo yang ada dan laku lima ribu rupiah.”
Nah lho! Jangan dicontoh ya, itu cerita rekayasa.. He he he…

Salam SuksesMulia!

Studi Banding


Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan menambah wawasan baru adalah melakukan studi banding. Sepulang dari studi banding biasanya banyak hal baru yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kinerja. Saat menjadi salah satu pimpinan di Dompet Dhuafa Republika, saya dan beberapa teman melakukan studi banding di Malaysia selama 2 pekan. Hasilnya? Banyak program-program segar yang kemudian kami gulirkan.

Jadi, masalah studi banding ke luar negeri seperti sering diributkan di koran itu sebenarnya tidak harus dikecam selama hasilnya jauh lebih besar dari energi yang dikeluarkan. Studi banding juga tidak harus dicela bila usai itu hasilnya bisa direalisasikan atau diterapkan dengan penuh semangat dan gairah. Setuju?

Tidak ada salahnya juga bila saat studi banding peserta menyempatkan diri plesiran ke tempat-tempat yang menawan di negara yang dituju. Dengan demikian, selain  manfaat ilmu peserta juga punya pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang indah dan memiliki nilai sejarah. Wawasan bertambah dan pikiranpun menjadi segar.

Mengingat manfaatnya yang begitu besar, dapat dimaklumi bila pejabat pemerintah kita seperti berlomba-lomba mengajukan atau menerima tawaran studi banding ke luar negeri. Tapi, konon kabarnya, para pejabat tersebut enggan melakukan studi banding ke Jepang. Padahal negeri Matahari Terbit tersebut terkenal dengan budayanya yang luhur dan pemandangan alamnya yang elok.

Tapi mengapa para pejabat menolak studi banding ke Jepang, ya? Selidik punya selidik, rupanya mereka khawatir bila sepulang dari Jepang masyarakat menuntut mereka untuk mempraktikkan budaya pejabat di Jepang sana: Mundur bila gagal atau harakiri (bunuh diri) bila melakukan sesuatu yang memalukan…

Salam SuksesMulia!

Foto Suami


Seorang suami yang merasa tidak setia dengan istrinya heran karena ternyata kemanapun pergi sang istri selalu membawa foto sang suami.  Akhirnya ia penasaran dan bertanya kepada istrinya, “Mama, kemanapun mama pergi kenapa selalu membawa fotoku?”

Sang istri menjawab, “Fotomu ini sebagai penghiburku tatkala aku ada masalah besar atau bersedih yang amat sangat.” Hati sang suami berbunga-bunga. “Ternyata aku begitu berarti bagi istriku,” pikir suaminya.

Kemudian sang suami penasaran dan bertanya, “Memang apa yang mama lakukan dengan fotoku itu?”

Istrinya kemudian menjawab, “Setiap ada masalah yang sangat berat langsung kupandangi foto ini sambil berkata pada diriku sendiri, memangnya masih ada masalah yang lebih berat dari orang yang di foto ini?”

Anggota Dewan Cari Istri



Di sebuah negara yang puluhan juta penduduknya masih susah makan alias miskin, tersebutlah seorang anggota dewan nan kaya raya. Dia memiliki bisnis kontraktor, kebun apel Malang dan juga distributor apel Washington. Begitu banyak hartanya sampai terkadang ia simpan uang dari keuntungan proyeknya di kardus bekas bungkus durian.
Anggota dewan inipun memiliki lapangan futsal seharga Rp2 Milyar. Bila sakit berobatnya ke Singapura, saat sehat hobinya jalan-jalan keliling dunia. Di rumahnya, setiap kursi harganya Rp24 juta, gorden jendela rumahnya per meter Rp6 juta. Toiletnya? Harganya lebih mahal dari puluhan rumah rakyat biasa.

Belum lama ini istri anggota dewan tersebut meninggal dunia. Karena merasa tidak nyaman hidup menduda akhirnya ia berniat menikahi staf ahlinya yang sangat jelita. Pendekatan intensif mulai dilakukan. Setiap malam staf ahli yang tinggi dan berambut pirang ini diajak dansa dan berkunjung ke berbagai diskotek hingga dini hari. Setelah sekian lama pergi berdua, akhirnya ia yakin akan menikahi staf ahlinya itu.

Namun sebagai seorang politisi yang sangat berhati-hati, sebelum memutuskan menikah ia meminta bantuan temannya agar menugaskan seorang intelijen untuk mengamati kehidupan staf ahlinya ini. Setelah dua minggu pengamatan, anggota dewan yang sangat tajir itu menerima laporan tertulis dari staf intelijen tadi.

“Wanita ini dari keluarga baik-baik dan terhormat. Dia selalu menjaga perilakunya dan tidak ada catatan kriminal sedikitpun. Selain ia cerdas, ia juga sangat sayang kepada bapak dan ibunya serta saudara-saudaranya. Hanya saja, akhir-akhir ini wanita ini sering keluar malam dengan seorang duda yang nama baik dan integritasnya sangat diragukan.”

Salam SuksesMulia!

Nenek Cerdas


Indonesia merupakan pasar yang besar bagi produk negara-negara lain. Bagi Anda pengguna jalan, setiap hari akan melihat motor-motor buatan Jepang berseliweran memacetkan jalanan. Padahal, selama saya berkunjung ke Jepang beberapa waktu yang lalu, saya tidak pernah melihat ada satu motor pun di jalan raya.

Begitu banyaknya motor di Indonesia. Tua, muda memilikinya, bahkan anak-anak yang belum punya SIM pun sudah biasa mengendarai motor.

Alkisah, seorang pemuda yang belum memiliki SIM ngebut di jalanan. Tanpa ia sadari seorang nenek menyeberang jalan. Hampir saja nenek tua itu ditabraknya.
Karena jengkel sang pemuda marah-marah dan mengucapkan kata-kata kasar, “Dasar nenek-nenek bego, nyeberang jalan sembarangan! Untung tidak tertabrak.” Nenek yang masih shock atas kejadian itu menjawab dengan suara keras, “Kamu yang bego, nabrak nenek-nenek aja gak kena!”

Salam SuksesMulia!

Jadilah Expert


Beberapa hari yang lalu ada anak muda yang bertanya kepada saya, “Pak, kenapa saya harus menjadi expert? Saya ingin menjadi orang yang biasa saja. Saya ingin menjadi orang yang bersyukur, tidak ngoyo. Hidup sudah ada yang ngatur.”

Mendengar pertanyaan anak muda ini saya langsung teringat nasihat orang tua angkat saya, “Jamil, jangan kau melakukan yang baik-baik.” Saya terkejut kemudian bertanya, “Kok gak boleh melakukan yang baik-baik? Kenapa, pak?” Sambil menarik napas panjang beliau berucap, “Lakukanlah yang terbaik. Penduduk bumi terlalu banyak, dunia hanya memperhatikan orang-orang yang terbaik. Dunia tak punya waktu memperhatikan orang yang hanya baik saja.”

Jadilah seorang expert, seorang yang ahli, seorang yang terbaik di bidang yang ditekuni. Apa untungnya? Banyak. Pertama, semakin percaya diri. Orang-orang yang tidak percaya diri biasanya fokus pada kelemahan bukan pada keahliannya. Harga diri dan juga harga tawar orang yang expert semakin tinggi dan mahal. Ia akan lebih leluasa mengambil keputusan. Ketahuilah, orang-orang yang gelisah dan mudah panik adalah orang yang tidak mempunyai keahlian atau kalau punya keahlian itu hanya rata-rata.

Kedua, nikmatnya akan berlimpah. Menurut G. William Domhoff, research professor in psychology and sociology di University of California, Santa Cruz, 80% populasi dunia  memperebutkan 7% perputaran uang. Sementara 93% jumlah uang yang yang beredar didunia dikuasai oleh 20% populasi manusia, dan yang 20% itu adalah orang-orang expert di bidangnya masing-masing. Semakin expert  seseorang membuktikan bahwa orang itu termasuk orang yang mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Wajar bila berbagai nikmat akan ditambah kepada orang itu.

Ketiga, semakin tidak “ngoyo”. Proses menjadi seorang expert memang perlu berkeringat dan bekerja keras. Namun setelah menjadi seorang expert berbagai nikmat akan mendekat hidupnya jadi lebih mudah. Sementara orang yang tidak expert semakin hari hidupnya semakin “ngoyo” Mengapa? Dunia semakin maju, persaingan semakin keras tapi orang ini tetap diam di tempat. Akhirnya, ia “ngoyo” sepanjang hidup.

Hal terbaik yang diperoleh seorang expert adalah menjadi sumber inspirasi kebaikan bagi generasi setelahnya. Dia menjadi bahan cerita untuk generasi penerus. Sebagai pemberi contoh kebaikan bagi yang beriman ia akan selalu mendapat kiriman pahala tiada henti walau ia sudah terbujur kaku di dalam bumi.
Nah, masih tidak mau menjadi expert? T-E-R-L-A-L-U….

Salam SuksesMulia!

Tidak Semua Nasihat Harus Dilakukan


Ada yang curhat kepada saya, “Pak, saya mengikuti nasihat orang sukses tetapi hidup saya malah berantakan.” Saya bertanya, “Memangnya apa nasihat orang itu?” Dia menjawab, “Saya diminta segera keluar kerja dan menjadi pengusaha. Ternyata semua usaha saya bangkrut. Menjadi pengusaha itu ternyata tidak semudah seperti yang diceritakan orang itu. Saat hidup saya berantakan orang itu cuek saja dan merasa tidak bersalah.”

Ada lagi yang curhat ke saya, “Mas, saya mengikuti nasihat ustadz di kampung tapi masalah tidak juga tuntas justru semakin besar.  Saya punya hutang banyak, kemudian saya diminta jual mobil. Hasil penjualan harus disedekahkan semua agar hutang lunas. Setelah saya lakukan ternyata hutang bukannya lunas malah bertambah banyak. Piye iki? (bagaimana ini?)”

Sesungguhnya yang tahu diri Anda adalah Anda sendiri bukan orang sukses, ustadz atau orang pintar sekalipun. Saat Anda “curhat” kepada orang lain pasti yang diceritakan kepada orang lain hanya sebagian kecil dari perjalanan hidup yang sudah Anda jalani. Saat memberi nasihat tentu pengetahuan orang itu tentang diri Anda tidak utuh, sehingga boleh jadi nasihat menjadi salah alamat dan menjerumuskan hidup Anda.

Yang menentukan hidup Anda adalah dir Anda sendiri. Bertangungjawablah atas semua pilihan dan tindakan yang Anda lakukan. Nasihat dari orang lain itu adalah rujukan yang menjadi bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Nasihat orang lain jangan Anda jadikan sabda atau titah yang seolah-olah “wajib” Anda kerjakan. Sehingga, bila Anda tidak menjalankannya merasa bersalah dan berdosa.

Menjadi pengusaha juga memerlukan mindset, nyali, ilmu dan komunitas yang pas. Sangat sembrono dan terburu-buru bila Anda baru mendengar atau ikut training entrepreneur satu kali langsung mengambil keputusan keluar dari pekerjaan tetap Anda. Ingat, buru-buru itu pekerjaan setan. Renungkanlah, dengarkanlah nasihat, pertimbangkanlah, berdiskusilah dengan orang-orang yang Anda cintai kemudian putuskanlah. Saat Anda sudah memutuskan itu berarti Anda mengambil tanggungjawab, bila suatu saat ada masalah Anda tak boleh melimpahkan kesalahan itu kepada orang lain.

Sedekah juga perbuatan baik dan sangat dianjurkan. Tetapi Anda juga harus punya ilmunya saat melakukannya. Ketahuilah, membayar hutang yang jatuh tempo itu wajib sementara sedekah kepada orang lain itu sunah. Tidak boleh yang wajib dikalahkan dengan yang sunah. Berbuatlah dengan ilmu bukan ikut-ikutan atau asal berbuat baik.

Kita semua perlu nasihat, tetapi yang tahu persis diri kita adalah diri kita sendiri. Dengarkanlah nasihat orang lain, bila tepat dengan hidup Anda kerjakanlah segera. Namun bila tidak tepat dengan hidup Anda, simpanlah menjadi ilmu yang boleh jadi suatu saat Anda gunakan. Anda lah yang bertanggungjawab atas hidup Anda bukan si pemberi nasihat.

Salam SuksesMulia

Dunia Terus Berubah

Tadi malam, hampir 2 jam, saya ngobrol dengan anak pertama saya Nadhira (20 tahun) yang tinggal di Jerman. Berapa biaya yang harus saya keluarkan? Nyaris nol, karena saya menggunakan skype. Coba bandingkan bila harus menggunakan saluran telepon internasional, berapa biaya yang harus dikeluarkan? Padahal, selain bisa mendengar suara anak saya, di skype saya juga bisa melihat wajahnya.

Dunia berubah begitu cepat. Skype telah mengubah cara orang berkomunikasi lintas benua.
Dari kacamata bisnis, skype boleh dibilang luar biasa. Walaupun “cuma” menyediakan layanan video chatting yang nyaris serba gratis namun nilai bisnisnya fantastis. Tahun 2011, raksasa bisnis Microsoft mengakuisisi skype sebesar US$ 8.5 milyar! Kalau dirupiahkan kira-kira Rp 75 trilyun lebih (asumsi USD 1 = Rp 9.000).
Setiap hari dunia terus berubah. Inovasi baru terus hadir. Siapapun yang hanya jalan di tempat pasti kita akan tertinggal.

Namun demikian, tidak semua yang bergerak dan berubah itu produktif. Sebab, ada pula yang sia-sia bahkan ada yang terjerumus ke dalam kubangan dosa.
Waktu kita sangat terbatas. Sehari semalam hanya 24 jam. Karenanya, jangan asal bergerak atau berubah. Tidak semua hal harus dikejar dan dikerjakan. Fokuskan hidup kita untuk melakukan sesuatu yang bisa meningkatkan derajat kita di dunia dan menyelamatkan kita di akhirat. Kejarlah akhiratmu namun jangan kau lupakan bagianmu di dunia. Dalam istilah saya, jadilah ahli ibadah sekaligus ahli manfaat.

Nah, tahun 2012 tersisa 3 bulan lagi. Coba berhenti sejenak dan merenunglah. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah keluarga besar kita semakin bangga dengan kita? Apakah sudah banyak karya yang kita lakukan dan diakui oleh banyak orang? Dalam hal-hal apa kita bertumbuh? Apakah pemetik manfaat dari ilmu dan keterampilan yang kita miliki semakin bertambah? Silakan Anda tambahkan lagi pertanyaan-pertanyaan renungan yang sesuai dengan kehidupan Anda.

Bila kita hanya jalan di tempat maka kita akan digilas zaman dan akhirnya menjadi barang rongsokan. Zaman dahulu, komunikasi jarak jauh cukup dilakukan dengan telegram dan pager, sekarang kedua benda itu sudah tak ada. SMS, BBM dan skype yang jauh lebih murah dan lebih canggih telah menggantikan keduanya. Semoga di dunia yang terus berubah ini kita tidak menjadi telegram dan pager yang secara perlahan tapi pasti tenggelam ditelan bumi…

Salam SuksesMulia!

Tanya yang Menyiksa


Salah satu kenikmatan hidup adalah ketika kita banyak teman dan mudah bergaul. Orang tua saya berpesan jadilah orang yang “grapyak” alias mudah menyapa dan berinteraksi dengan orang lain. Salah satu kemampuan yang harus kita miliki agar mudah bergaul adalah kemampuan bertanya.

Bertanya yang baik sama pentingnya dengan kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik. Sembarangan bertanya bisa membuat orang yang ditanya tersinggung, sakit hati, bersedih dan akhirnya menangis tersedu-sedu. Menurut saya ada beberapa pertanyaan yang seharusnya dihindari saat kita berjumpa dengan orang lain.

Hindari pertanyaan yang sifatnya sangat pribadi. Misalnya, “Anaknya sudah berapa pak/ibu?” Ketahuilah, betapa banyak orang yang sudah menikah bertahun-tahun namun belum dikaruniai anak. Pertanyaan seperti itu bisa sangat menyiksa buat mereka. Apakah tidak boleh bertanya tentang anak? Tentu boleh, tetapi setelah kita tahu dan yakin bahwa mereka sudah dikaruniai anak.

Selain itu, banyak orang yang bercanda dengan pertanyaan, “Sudah berapa istrinya?” Perlu Anda paham, tidak semua orang senang membicarakan poligami. Memang banyak orang yang happy dan harmonis walau sudah berpoligami, istri-istrinyapun saling mendukung satu dengan yang lain, tetapi itu bukan bahan pertanyaan yang tepat di ranah pergaulan.

Contoh pertanyaan pribadi lain yang sangat tidak disenangi terutama oleh kaum perempuan adalah, “Berat badanmu berapa sekarang?” Sadarilah, banyak kaum hawa yang ingin menurunkan berat badan dengan berbagai cara namun belum membuahkan hasil, bahkan badannya semakin besar. Pertanyaan tadi mungkin awalnya membuat tertawa tetapi setelah itu wanita yang ditanya akan ke kamar mandi kemudian menangis.

Hindari pula pertanyaan tentang gaji dan penghasilan. Sungguh tidak sopan apabila ada orang yang tiba-tiba bertanya, “Gaji Anda berapa sekarang?” Pertanyaan ini cocok kalau Anda bagian SDM yang sedang wawancara calon karyawan baru yang sudah bekerja di perusahaan lain. Tetapi bila Anda baru kenal kemudian bertanya tentang hal itu, sepertinya Anda perlu belajar etika pergaulan.

Kita hidup di dunia tidak sendirian.  Setiap orang punya nilai, latar belakang dan pemahaman yang berbeda. Bertanyalah dengan tepat atau diam. Karena boleh jadi, bagi Anda itu pertanyaan biasa tetapi bagi orang lain menyiksa. Mari cerdas dan gunakan nurani saat bertanya.

Salam SuksesMulia!

Gunakan Rumus CDE


Salah satu kenikmatan bagi seorang trainer atau inspirator seperti saya adalah saat materi seminar atau training yang diberikan memberi banyak manfaat kepada peserta. Itu biasanya diawali dari respon peserta yang antusias saat inspirator menyampaikan materinya. Maka, tugas utama seorang trainer adalah menyiapkan materi dengan sangat baik dan menciptakan suasana yang kondusif agar peserta aktif terlibat.

Agar training berhasil, seorang trainer harus menguasai CDE –kependekan dari Content, Delivery, Entertaint. Content atau materi training diupayakan orisinal, simpel, membumi dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata serta memberi dampak positif bagi kehidupan peserta. Delivery adalah cara menyampaikan yang atraktif, argumentatif, imajinatif dan inspiratif sehingga diharapkan tidak ada “jarak” antara trainer dan peserta. Supaya peserta tidak jenuh, ngantuk dan bosan maka seorang trainer harus pula memberikan sentuhan Entertain dalam trainingnya.

Formula CDE tersebut harus dikemas dengan proporsi yang pas agar para peserta training puas. Hormatilah para peserta dengan cara Anda menyiapkan CDE dengan sangat baik. Menjadi pembicara tidak boleh asal bicara.

Ngomong-ngomong soal menjadi pembicara yang baik, alkisah di sebuah hotel diadakan sebuah seminar dengan dua pembicara. Saat pembicara pertama menyampaikan materinya, satu per satu peserta seminar keluar ruangan. Mengapa? Selain karena materinya tidak berbobot, cara penyampaian pembicara juga tidak menarik. Setelah hampir satu jam, ratusan peserta meninggalkan ruangan dan tersisa hanya satu orang.

Untuk mengapresiasi peserta yang tinggal didalam ruangan, sang pembicara mendekati orang itu dan berkata, “Terima kasih pak masih bersedia mendengarkan seminar saya, tidak seperti peserta lainnya yang tega-teganya meninggalkan ruangan ini.” Dengan santai orang itu menjawab, “Saya bukan peserta, pak. Saya pembicara kedua setelah Anda.”

Salam SuksesMulia!

Nikmatilah Proses

Anda ingin sukses? Nikmatilah proses. Jangan senang yang serba instan. Penipuan pada kasus investasi bodong dan emas yang baru-baru ini terjadi menunjukkan bahwa banyak yang senang sukses instan. Padahal seharusnya kita tahu, investasi yang menawarkan keuntugan fantastis pada akhirnya membuat kita menangis.

Coba simak, saat kita seharusnya berlomba menjadi Hamba Allah orang-orang yang ingin sukses instan justru sibuk berlomba di proyek Hamba Lang. Ketidaksabaran kita pada proses membuat hidup kita bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang sangat merugikan. Bahkan, para Nabipun tidak dinilai dari hasilnya tetapi proses yang dijalaninya.
Biasakanlah menikmati proses sebab bila proses yang kita lakukan berkualitas hasilnyapun berpeluang besar berkelas. Sebaliknya, bila kita hanya fokus pada hasil proses yang dijalani bisa menghalalkan segala cara dan menjerumuskan kita pada masalah baru.

Kisah berikut bisa dijadikan pelajaran. Seorang pemuda dibawa ke kantor polisi karena mengambil HP milik penumpang busway. “Kenapa kau mengambil HP?” tanya polisi. Pemuda itu menjawab, “Sumpah pak saya tidak mengambil HP.” Dengan cepat polisi itu menukas, “Kamu bilang gak ngambil HP, lha ini terbukti kamu bawa HP.”

Pemuda itu menjelaskan, “Benar pak, tapi saya tidak niat mengambil HP. Niat saya mencari kantor polisi. Saya tanya banyak orang tapi tidak ada yang tahu. Akhirnya saya ambil HP ini dan alhamdulillah akhirnya saya sampai kantor polisi.” Dengan sedikit heran polisi itu bertanya, “Lantas apa tujuanmu ke kantor polisi?” Sambil tersenyum pemuda itu menjawab, “Saya mau mengurus surat kelakuan baik pak.”

Salam SuksesMulia!

Bekerjalah dengan Ilmu


Kita harus terus bertumbuh dan “naik kelas” bukan hanya saat sekolah dan kuliah. Saat kita bekerja, kita pun harus terus “naik kelas” dan tidak boleh stagnan. Setiap hari kita harus belajar, baik itu melalui training, baca buku, bergabung dengan komunitas yang pas, atau bertanya kepada yang lebih senior.

Bergaulah dengan orang-orang yang sudah ahli di bidang yang Anda tekuni agar Anda tertular energi dan ilmunya. Begitu saya sudah menentapkan menjadi Inspirator tahun 2004, setiap hari saya belajar dan berguru. Bukan hanya kepada yang lebih senior bahkan kepada yang lebih muda yang berilmu

Sadar diri bahwa saya tidak punya latar belakang psikologi maka saya belajar kepada para sarjana psikologi yang jauh lebih muda dari saya. Setiap kali saya tampil, saya meminta penilaian mereka. Bagian mana yang harus saya kuatkan dan bagian mana yang harus saya hilangkan. Para sarjana lulusan Universitas Indonesia ini memberi saya masukan yang berharga dan mewarnai penampilan saya selanjutnya. Mereka adalah Meli, Wildan, Dewi, Kitty, Risa (Odeng), Sari Mulatsih, Anesty, Randi dan Dayat serta teman-teman lainnya.
Selain itu, ada pula sarjana-sarjana Psikologi Universitas Islam Bandung yang selalu siap memberi masukan kepada saya. Mereka adalah Andri, Lia dan Damayati –sekarang menjadi pejuang anak-anak dhuafa agar berprestasi dan mandiri. Dari mereka semualah saya belajar.

Nah, bila Anda malas belajar Anda bisa saja melakukan kesalahan sebagaimana diceritakan dalam kisah berikut. Seorang kondektur baru kereta api jurusan Jakarta-Semarang sedang memeriksa karcis penumpangnya. Setelah penumpang kereta tersebut diperiksa satu persatu, semua tiket kereta mereka ternyata jurusan Solo. Kondektur baru ini menjadi bingung dan bertanya kepada kondektur yang sudah senior.
Kondektur baru bertanya, “Pak, penumpang kita semuanya penumpang gelap. Semua karcisnya beda. Apa yang harus saya lakukan kepada mereka?” Kondektur senior kemudian balik bertanya, “Karcisnya lain bagaimana?” Dengan cepat kondektur baru ini menjawab, “Semua penumpang karcisnya jurusan Solo, padahal kereta kita tujuannya ke Semarang.”

Mendengar penjelasan itu kondektur senior menjawab, “Kamu yang salah naik, ini kereta memang jurusan Jakarta-Solo. Kereta api yang jurusan Jakarta-Semarang tadi ada di rel sebelah.”

Salam SuksesMulia!

Ibumu Tidak Tergantikan


Tadi malam saya membuat kultwet pendek di twitter tentang ibu. Setelah itu ada SMS masuk di handphone saya, isinya “Mas Jamil mungkin bisa berterima kasih dan menangis saat bicara ibu. Kalau saya sama sekali tidak, ibu tidak berjasa apapun dalam hidup saya. Dia hanya melahirkan, setelah itu saya dicampakkan.”
Mendapat SMS itu, kultwet saya hentikan karena tiba-tiba saya kehilangan ide. Saya tertegun kemudian merenung. Menurut saya, jasa terbesar seorang ibu adalah saat terjadinya pembuahan sel telur oleh sperma sang suami dan kemudian ia hamil selama kurang lebih 9 bulan. Jasa orang tua, khususnya ibu dalam hal ini, tidak bisa tergantikan dengan apapun dan oleh siapapun.

Mengapa tidak tergantikan? Karena dari proses itulah kita berkesempatan terlahir ke dunia, menikmati keindahan dunia dan kelak mendapat peluang untuk bisa hidup abadi di surga. Bandingkan nasib kita dengan trilyunan sperma lain di dunia yang tidak menjadi apa apa, bahkan kemudian dibuang ke tempat yang kotor, tidak tahu keindahan dunia dan yang pasti tidak berkesempatan untuk bisa menikmati kehidupan di surga.

Jadi, jasa ibu kita yang terbesar adalah saat kita dalam kandungan bukan saat kita berada di dunia. Seandainya, setelah melahirkan kemudian ibu pergi dan menyerahkan pendidikan kita kepada nenek, panti asuhan atau diberikan kepada saudara, jasa ibu tetap tidak akan tergantikan. Peranan ibu yang hanya kurang lebih sembilan bulan itu tidak mungkin Anda balas dengan apapun. Jadi, tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak hormat atau mencintai seorang ibu.

Apalagi bila Anda memiliki seorang ibu yang merawat kemudian membesarkan dengan penuh cinta, sangat tidak layak jika Anda tidak berusaha keras untuk membahagiakannya. Ketahuilah, walau Anda menghajikan ibu ke Tanah Suci, kemudian Anda menggendongnya sejak keberangkatan hingga kepulangan, itu amatlah kecil dibandingkan dengan jasa dan kasih sayangnya.

Walau seluruh ucapan terima kasih di dunia dijadikan satu, kemudian kita persembahkan kepada ibu, itu tidak akan cukup menggantikan kasih sayangnya. Saat ibu sudah renta dan kita mengerahkan semua energi dan cinta untuk merawatnya, itu juga tidak cukup membalas cinta dan perhatiannya. Walau setiap hari kita berdoa untuknya, itu juga tidak cukup menggantikan doa-doanya untuk kita  yang terucap dari mulutnya.
Maka, sungguh durhaka bila kata yang terucap dari mulut kita itu melukai hatinya. Sungguh tidak tahu diri, bila kita keberatan merawatnya saat ia sudah tua. Sungguh kita tak tahu balas budi bila hanya sekedar berdoa untuk ibu pun kita sudah tidak punya waktu. Sungguh terlalu bila ia sakit dan merindukan kehadiran kita, namun kita masih menyiapkan seribu alasan untuk tidak menemaninya.

Bila yang seperti itu yang terjadi, masih pantaskah kita kelak berharap hidup di surga? Bukankah surga berada di telapak kaki ibu? Oh ibu, aku benar-benar mengharap ridhomu…

Salam SuksesMulia!

Malulah


Rasa malu yang tepat itu bisa menyelamatkan hidup Anda. Namun sayang, rasa malu kini sering berada di tempat yang salah. Apa contohnya? Tidak punya pacar, malu. Tidak punya mobil berkelas, malu. Membawa-bawa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bisnis, malu. Itu semua adalah malu yang keliru.

Milikilah rasa malu di tempat yang tepat agar kehidupan kita selamat. Milikilah rasa malu, bila semakin bertambah usia tetapi kita belum bisa membahagiakan orang tua. Memang, orang tua yang baik tidak akan pernah berharap balasan apapun dari anaknya kecuali doa dari anak sholeh. Namun sebagai anak seharusnya kita tahu diri untuk membahagiakan mereka. Malulah kalau kita belum mampu membantu mewujudkan hal-hal yang menjadi kebanggaan orang tua. Apalagi kalau kita justru menjadi beban bagi mereka, malulah.
Milikilah rasa malu, bila kita bekerja di suatu perusahaan namun belum mampu memberikan kontribusi besar untuk kemajuan perusahaan. Anda hanya menjadi manusia rata-rata. Kontribusi Anda hanya sesuai bayaran yang Anda terima, malulah. Apalagi bila Anda ternyata menjadi orang yang “meludah di sumur” yang airnya Anda minum. Apa artinya? Anda masih dibayar oleh perusahaan tetapi Anda sempatkan diri untuk menjelek-jelekkan perusahaan, maka malulah.

Milikilah rasa malu, bila kita berkeluarga namun tidak memiliki waktu berharga buat mereka. Senin hingga Jumat Anda gunakan untuk bekerja, pergi pagi pulang malam. Saat libur Sabtu dan Minggu Anda masih juga asyik dengan urusan sendiri; boleh jadi Anda ‘balas dendam’ tidur seharian, menonton TV, pergi bersama orang lain atau beraktivitas lain yang tidak melibatkan keluarga. Padahal, keluarga memerlukan pelukan, telinga dan juga nasihat Anda. Maka, bila Anda tidak menyiapkan waktu berharga buat mereka, malulah.

Kepada para pemuda, malulah, bila Anda masih meminta uang dari orang tua tetapi Anda menunda-nunda skripsi. Padahal orang tua bekerja keras membanting tulang untuk mengongkosi kuliah Anda. Yang lebih tak tahu malu lagi, uang kiriman dari orang tua tega-teganya digunakan untuk membeli rokok dan pacaran yang justru menambah dosa. Wahai pemuda, kalau Anda masih seperti itu, malulah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menikmati udara, sinar matahari, bumi yang kita pijak dan panca indra cuma-cuma dari Yang Maha Kuasa. Maka malulah bila saat kita dipanggil untuk menghadap kepada-Nya, kita mengabaikannya. Apalagi bila kita dengan suka cita berani melanggar larangan-larangannya, maka malulah.
Tempatkanlah rasa malu di tempat yang pas, atau berbuatlah sesuka Anda, bila Anda tak tahu malu. Namun sesungguhnya pilihan yang tepat adalah, malulah…

Salam SuksesMulia!

Kreatiflah atau Tertinggal


Saat saya SD dulu, bila guru berkata, “Anak-anak silakan gambar pemandangan yang paling indah.”  Saya dan sebagian Anda bisa menebak apa yang akan digambar oleh para siswa. Pasti ada gunung, sawah, matahari terbit, jalan dan awan. Pendidikan kita tidak menghasilkan anak-anak yang kreatif saat itu.

Namun sekarang dunia pendidikan sudah berubah. Selain banyak pelatihan gratis buat guru, muncul juga komunitas-komunitas yang peduli pendidikan. Berbagai model sekolah pun bermunculan. Dua anak saya yang kini bermukim di Jerman yaitu Nadhira (20 tahun) dan Asa (18 tahun) adalah lulusan sekolah alam, yang belum ada saat saya kecil dulu. Sekolah tersebut melatih dan mengembangkan kreativitas tak berbatas pada anak-anak. Tidak heran kalau dua anak saya tadi lebih kreatif dibandingkan saya saat kecil dulu.
Kreativitas juga tumbuh subur di dunia bisnis. Dulu orang jualan pecel lele pakai tenda di pinggir jalan. Tapi sahabat saya Rangga Umara mengubahnya menjadi lebih bergengsi, Pecel Lele Lela. Bahkan pecel lele bisa masuk istana negara dengan sentuhan penulis buku Dream Book ini. Dulu tidak ada profesi Optimizer, sahabat saya Ali Akbar mempopulerkan istilah itu dan telah melahirkan banyak orang sukses dengan profesi baru itu.

Teruslah berkreasi karena tuntutan jaman semakin berubah dan tinggi. Ingat pesan Albert Einstein, “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama.”  Cobalah cara baru, cobalah strategi baru dan jangan lupa juga cobalah hal-hal baru. Dengan cara ini hidup kita semakin bermutu.
Nah, kreativitas juga muncul dalam wawancara perusahaan saat merekrut tenaga kerja baru. Alkisah, seorang pimpinan HRD di sebuah perusahaan mewawancarai tiga kandidat karyawan baru. Mereka akan ditempatkan di bagian yang memerlukan kreativitas dan kecerdasan tinggi.

Pertanyaan pertama dimulai, “Apa yang bergerak cepat dan sebutkan alasannya?” Kandidat pertama menjawab, “Pikiran pak, karena tanpa kita duga tiba-tiba pikiran sudah muncul.”
Pimpinan HRD itu berkata, “Bagus dan cerdas Anda. Selanjutnya kandidat kedua, apa jawabanmu?” Kandidat kedua pun menjawab, “Saklar lampu, pak. Kita pencet saklar lampu di dalam rumah tetapi lampu di luar rumah menyala.”
Pimpinan SDM itu berkata, “Luar biasa Anda. Sekarang kandidat yang ketiga, apa jawabanmu?” Maka dengan tegas kandidat ketiga itu menjawab, “Menurut saya yang paling cepat itu mencret-mencret, pak”
Mendengar jawaban itu terkejutlah pimpinan SDM itu maka langsung ia bertanya, “Mengapa begitu, sebutkan alasannya?” Kandidat ketiga menjawab, “Karena belum sempat kita berpikir dan menekan saklar lampu, mencret sudah keluar, pak.”

Salam SuksesMulia!

Passive Pahala


Semua orang pasti ingin memiliki passive income; penghasilan terus mengalir pada saat sudah tidak bekerja. Bagi orang yang bekerja dan menjadi karyawan, setelah tua mereka mengandalkan dana pensiun walau mungkin tidak seberapa. Bagi yang punya jiwa bisnis, mereka membangun kerajaan bisnis agar usahanya semakin besar dan bisa terus dinikmati hasilnya hingga di kemudian hari. Passive income adalah impian banyak orang, termasuk saya di dalamnya.

Secara spiritual, Allah SWT juga menawarkan Passive Pahala. Apa itu? Pahala yang terus mengalir tiada henti walau kita sudah tidak lagi melakukan amalannya bahkan kita sudah terbujur kaku di dalam tanah. Orang-orang yang cerdas pasti akan berebut mengambil kesempatan ini.  Mau tahu apa tawaran Sang Pencipta? Simak hadits berikut, “Jika seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
Pastikanlah dalam setiap menerima penghasilan ada bagian yang Anda sedekahkan. Sedekah itu direncanakan bukan hanya dari sisa-sisa penghasilan. Sedekah rutin itu lebih prioritas dibandingkan menabung rutin. Kehidupan akhirat jauh lebih nikmat dibandingkan kehidupan dunia yang sesaat. Sedekah itu menyelamatkan hidup Anda bukan bagi si penerima. Sangat rugi orang yang sanggup membeli rutin sesuatu yang bisa merusak hidupnya (rokok, misalnya) tetapi tidak bisa rutin bersedekah.

Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT.  Apalagi bila ilmu itu disebarluaskan dan diajarkan. Tabiat ilmu, semakin sering dibagikan maka akan semakin banyak dan mengkristal dalam hidup Anda. Khusus bagi Anda yang ingin menyebarkan ilmu lewat dunia training, silakan ikut Trainer Bootcamp, 7-9 Desember di Bogor, hubungi 0812-1632-0707 [Promosi dikit, ya. Hehehe... Tapi swear itu bermanfaat banget].
Menyebarkan ilmu tidak harus di ruang kelas atau kuliah tapi bisa juga lewat media sosial. Aktifkan twitter, facebook dan blog atau website Anda untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Social media bukan sarana untuk curhat apalagi menyebarkan kegalauan pribadi Anda. Jadikan ia sarana untuk meningkatkan Passive Pahala Anda.
Mendidik anak yang shalih bukan pekerjaan mudah. Itu harus ditempuh dengan keringat dan usaha yang cerdas. Bahkan harus dilakukan sebelum anak kita terlahir. Bagaimana caranya? Dengan memilihkan ibu atau bapak terbaik bagi anak-anak kita. Pilihlah pasangan yang bisa menjaga harga dirinya bukan yang dengan mudah menyerahkan kehormatannya.

Setelah menikah, kehidupan rumah tangganya harus dibangun dengan visi yang jelas. Didiklah anak laki-laki Anda untuk menjadi pemimpin dan suami teladan di masa yang akan datang. Sementara didiklah anak perempuan Anda untuk menjadi istri shalihah dan ibu yang hebat bagi putra-putrinya. Salah mendidik anak akan menjadikan karakter anak tidak jelas, lelaki tetapi perilakunya perempuan atau sebaliknya perempuan tetapi gayanya laki-laki. Jangan hanya pintar melahirkan tetapi tidak dididik dengan cara yang benar.

Jangan pernah main-main dan berleha-leha untuk tiga hal tersebut di atas. Sesuatu yang memberikan hasil besar pasti memerlukan energi yang besar. Tanpa Passive Pahala ini rasanya tak cukup amal-amal kita untuk ditukar dengan tempat yang sangat mulia di kehidupan nanti. Orang-orang yang waras dan cerdas pasti akan rela berkeringat untuk sesuatu yang sangat manfaat.  Setuju?

Salam SuksesMulia!

Hidup Ini Perjalanan Spiritual


Kita bukanlah robot, yang bergerak dan beraktivitas tetapi tidak ada pikiran dan hati yang menyertainya. Kita bukanlah robot, dimana aktivitasnya hanya menjalankan “instruksi” orang lain.  Kita adalah makhluk spiritual, yang menyadari bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan sebentar. Kata orang tua saya hidup ini hanya sekedar “mampir ngombe” (mampir minum).

Namun kehidupan yang sebentar ini menentukan hidup yang abadi, kehidupan yang bukan hanya seratus tahun, sejuta, semilyar atau setrilyun tahun tapi hidup selama-lamanya. Ketahuilah, hidup yang paling rugi adalah di dunia hampa dan menderita kemudian di akhirat mendapat full siksa, dimana siksanya tiada pernah berhenti dan tiada belas kasih. Maka janganlah hidup asal mengalir apalagi hanya menjadi seperti robot.
Bagaimana agar hidup kita tidak seperti robot? Pertama, yakini dan pastikanlah bahwa semua yang Anda lakukan itu mendatangka ridho dari Allah SWT. Janganlah beraktifitas dan bekerja hanya mempertimbangkan hasil di dunia. Sebab amatlah rugi bila apa yang kita lakukan tidak mendapatkan reward dari-Nya. Buat apa hidup di dunia berlimpah tetapi di kehidupan nanti kita susah sepanjang masa. Akhirat harus Anda dapatkan tetapi dunia jangan kau lupakan.

Kedua, rencanakanlah hidup Anda. Saran saya buatlah proposal hidup (baca buku saya: Tuhan Inilah Proposal Hidupku, terbitan Gramedia). Dengan membuat proposal hidup Anda bisa menentukan mana aktivitas yang prioritas dan mana yang aktivitas yang “remeh temeh”. Hidup hanya sebentar, tidak semua hal bisa kita lakukan. Pilihlah aktivitas yang prioritas dan penting, beranilah berkata “tidak” untuk ajakan aktivitas yang tidak seirama dengan arah hidup Anda.

Ketiga, evaluasilah perjalanan hidup Anda. Berhentilah sejenak dari hiruk pikuknya dunia, renungkanlah perjalanan hidup Anda. Apakah bekal Anda untuk kehidupan nanti sudah cukup hanya dengan apa-apa yang Anda lakukan saat ini. Apakah orang tua Anda tidak menyesal melahirkan Anda ke muka bumi? Apakah mereka sudah bangga dengan Anda saat ini? Apakah orang-orang di sekitar Anda memperoleh banyak manfaat dari Anda? Apakah pasangan hidup dan keturunan Anda mendapat curahan kasih sayang penuh dari Anda? Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan lain yang sesuai dengan perjalanan hidup Anda.
Hidup di dunia adalah perjalanan spiritual. Tidak pantas kita  menjalani hidup hanya mengalir dan seperti robot. Tidak pantas pula menjalani hidup hanya untuk kepuasan dan kebanggaan dunia. Perjalanan spiritual itu dibuktikan dengan memberi makna ketika hidup di dunia dan membawa bekal yang cukup untuk sampai ke tempat yang mulia, Surga yang dijanjikan Sang Pencipta.

Salam SuksesMulia!

Aku Rindu Menjadi Sepertimu


Ada seorang laki-laki yang ingin sekali punya anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, berharap dan berusaha akhirnya keinginannya dikabulkan oleh Allah SWT. Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan lelaki itu. Saat rasa cinta kepada sang anak begitu bergelora Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih sang buah hati yang sangat ia cintai. Saya tidak bisa membayangkan perasaan yang berkecamuk dalam hati laki-laki bernama Ibrahim AS itu.

Begitu cintanya lelaki ini kepada Allah SWT, ia relakan sesuatu yang sangat dicintainya untuk dikorbankan. Oh, aku tertegun. Hal terbaik apa yang sudah saya korbankan? Mengapa terkadang aku masih menomorduakan perintah-perintah Allah SWT? Terlalu sibuk dengan kesenangan dunia yang hanya sementara. Terlalu terburu-buru dan tak sabar dengan janji dari Yang Maha Tahu. Pantaskah saya mengaku bahwa saya sangat mencintai Allah SWT?

Padahal saat taat kepada Allah SWT, maka kita akan mendapat berbagai jalan dari arah yang tidak terduga. Sebagaimana Ibrahim AS, ia rela korbankan yang terbaik tetapi dia tak kehilangan yang terbaik bahkan mendapat ganti sesuatu yang diluar nalar manusia, seekor domba terbaik.  Janji Allah SWT pasti bahwa siapa yang taat kepada-Nya akan mendapat berbagai kemudahan dari berbagai penjuru. Tetapi mengapa terkadang kita masih ragu?
Dalam bisnis kita diingatkan untuk bertransaksi secara halal, tetapi mengapa kita masih juga berani menggunakan cara-cara yang haram? Hasilnya? Keuntungan bisnis habis untuk sesuatu yang tidak jelas. Bagi yang bekerja, gajinya terserap habis untuk angsuran yang semakin membesar. Hidup kita akhirnya diperbudak dunia. Kita dibuat sibuk tetapi tidak ada hasil signifikan yang bisa kita nikmati.

Hal-hal yang kita berikan kepada Allah SWT bukanlah yang terbaik. Waktu yang diberikan kepada-Nya adalah waktu-waktu sisa setelah kita lelah untuk urusan dunia. Di saat sepertiga malam Allah SWT merindukan kehadiran kita, tetapi justru kita tertidur pulas atau di depan TV menonton sepak bola. Sedekah atau sumbangan yang kita persembahkan hanyalah recehan, sisa-sisa dari belanja kita bukan sedekah yang disiapkan sejak semula.
Ketika Allah SWT meminta kepada kita melalui nabi-Nya, ‘sampaikanlah walau hanya satu ayat’, kita hanya berdiam diri tanpa aksi bahkan terkadang sibuk menghujat orang-orang yang sibuk berbuat kebaikan. Ketika kita diminta berpegang teguh kepada kitab suci yang Dia turunkan, ternyata kitab suci itu justru kita kunci di dalam almari.

Kita, atau setidaknya saya, belum memberikan yang terbaik untuk Allah SWT. Pantaslah bila berbagai jalan kemudahan dan solusi kehidupan tidak begitu mudah hadir dalam kehidupan kita. Mengapa kita belum memperoleh yang terbaik? Karena kita juga belum memberikan yang terbaik kepada Sang Maha Kuasa.

Terima kasih wahai Ibrahim AS. Aku rindu menjadi sepertimu, menjadi kekasih Allah SWT.

Salam SuksesMulia!