Kamis, 01 November 2012

Studi Banding


Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan dan menambah wawasan baru adalah melakukan studi banding. Sepulang dari studi banding biasanya banyak hal baru yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kinerja. Saat menjadi salah satu pimpinan di Dompet Dhuafa Republika, saya dan beberapa teman melakukan studi banding di Malaysia selama 2 pekan. Hasilnya? Banyak program-program segar yang kemudian kami gulirkan.

Jadi, masalah studi banding ke luar negeri seperti sering diributkan di koran itu sebenarnya tidak harus dikecam selama hasilnya jauh lebih besar dari energi yang dikeluarkan. Studi banding juga tidak harus dicela bila usai itu hasilnya bisa direalisasikan atau diterapkan dengan penuh semangat dan gairah. Setuju?

Tidak ada salahnya juga bila saat studi banding peserta menyempatkan diri plesiran ke tempat-tempat yang menawan di negara yang dituju. Dengan demikian, selain  manfaat ilmu peserta juga punya pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang indah dan memiliki nilai sejarah. Wawasan bertambah dan pikiranpun menjadi segar.

Mengingat manfaatnya yang begitu besar, dapat dimaklumi bila pejabat pemerintah kita seperti berlomba-lomba mengajukan atau menerima tawaran studi banding ke luar negeri. Tapi, konon kabarnya, para pejabat tersebut enggan melakukan studi banding ke Jepang. Padahal negeri Matahari Terbit tersebut terkenal dengan budayanya yang luhur dan pemandangan alamnya yang elok.

Tapi mengapa para pejabat menolak studi banding ke Jepang, ya? Selidik punya selidik, rupanya mereka khawatir bila sepulang dari Jepang masyarakat menuntut mereka untuk mempraktikkan budaya pejabat di Jepang sana: Mundur bila gagal atau harakiri (bunuh diri) bila melakukan sesuatu yang memalukan…

Salam SuksesMulia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar