Kamis, 01 November 2012

Malulah


Rasa malu yang tepat itu bisa menyelamatkan hidup Anda. Namun sayang, rasa malu kini sering berada di tempat yang salah. Apa contohnya? Tidak punya pacar, malu. Tidak punya mobil berkelas, malu. Membawa-bawa Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bisnis, malu. Itu semua adalah malu yang keliru.

Milikilah rasa malu di tempat yang tepat agar kehidupan kita selamat. Milikilah rasa malu, bila semakin bertambah usia tetapi kita belum bisa membahagiakan orang tua. Memang, orang tua yang baik tidak akan pernah berharap balasan apapun dari anaknya kecuali doa dari anak sholeh. Namun sebagai anak seharusnya kita tahu diri untuk membahagiakan mereka. Malulah kalau kita belum mampu membantu mewujudkan hal-hal yang menjadi kebanggaan orang tua. Apalagi kalau kita justru menjadi beban bagi mereka, malulah.
Milikilah rasa malu, bila kita bekerja di suatu perusahaan namun belum mampu memberikan kontribusi besar untuk kemajuan perusahaan. Anda hanya menjadi manusia rata-rata. Kontribusi Anda hanya sesuai bayaran yang Anda terima, malulah. Apalagi bila Anda ternyata menjadi orang yang “meludah di sumur” yang airnya Anda minum. Apa artinya? Anda masih dibayar oleh perusahaan tetapi Anda sempatkan diri untuk menjelek-jelekkan perusahaan, maka malulah.

Milikilah rasa malu, bila kita berkeluarga namun tidak memiliki waktu berharga buat mereka. Senin hingga Jumat Anda gunakan untuk bekerja, pergi pagi pulang malam. Saat libur Sabtu dan Minggu Anda masih juga asyik dengan urusan sendiri; boleh jadi Anda ‘balas dendam’ tidur seharian, menonton TV, pergi bersama orang lain atau beraktivitas lain yang tidak melibatkan keluarga. Padahal, keluarga memerlukan pelukan, telinga dan juga nasihat Anda. Maka, bila Anda tidak menyiapkan waktu berharga buat mereka, malulah.

Kepada para pemuda, malulah, bila Anda masih meminta uang dari orang tua tetapi Anda menunda-nunda skripsi. Padahal orang tua bekerja keras membanting tulang untuk mengongkosi kuliah Anda. Yang lebih tak tahu malu lagi, uang kiriman dari orang tua tega-teganya digunakan untuk membeli rokok dan pacaran yang justru menambah dosa. Wahai pemuda, kalau Anda masih seperti itu, malulah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menikmati udara, sinar matahari, bumi yang kita pijak dan panca indra cuma-cuma dari Yang Maha Kuasa. Maka malulah bila saat kita dipanggil untuk menghadap kepada-Nya, kita mengabaikannya. Apalagi bila kita dengan suka cita berani melanggar larangan-larangannya, maka malulah.
Tempatkanlah rasa malu di tempat yang pas, atau berbuatlah sesuka Anda, bila Anda tak tahu malu. Namun sesungguhnya pilihan yang tepat adalah, malulah…

Salam SuksesMulia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar